Kamis, 10 Mei 2012

Korea Saja Bisa, Apalagi Indonesia


Tiga puluh tahun yang lalu, saya mendengar dari profesor saya di ruang kelas bahwa Indonesia merupakan negara yang berpotensi tinggi, karena sumber daya alam dan manusianya begitu kaya. Tiga puluh tahun sudah lewat, dan saya sudah menjadi profesor. Saya masih juga mengatakan kepada murid-murid saya bahwa Indonesia negara besar dan berpotensi tinggi dengan alasan yang sama.

Tanggal 19 Desember 2007, rakyat Korea (Korsel) memilih presiden baru, yaitu Lee Myung-bak (biasa disebut MB) yang akan memulai lima tahun masa jabatannya pada 25 Februari mendatang. MB berjanji bahwa dalam masa jabatannya Korea akan lebih maju dengan wawasan 7-4-7, yang berisikan bahwa 7 persen pertumbuhan ekonomi per tahun, 40.000 dollar AS pendapatan per kapita, dan negara ke-7 terbesar dari segi ekonominya (sekarang ke-11 terbesar).
Pada hemat saya, Indonesia juga bisa, karena negara ini punya kemampuan.
Ciri utama yang mewarnai negara berkembang, dan merupakan musuh utama yang harus kita kalahkan, ialah kebodohan dan kemalasan yang keduanya adalah cikal bakal yang melahirkan kemiskinan. Karena itu, siapa yang lebih dahulu mampu menghilangkan dua sifat buruk itu, maka dialah yang akan dengan cepat dapat meraih kemajuan dan kemakmuran bangsanya.
Dalam teori pembangunan, sebagaimana ditulis Steven J Rosen dalam bukunya, The Logic of International Relation, dikenal dua aliran pendapat tentang sebab-sebab keterbelakangan negara-negara berkembang, di mana kedua aliran pendapat itu secara prinsip sangat berbeda satu dengan yang lain.

Dalam hal ini, Indonesia dan Korea memiliki pandangan yang sama, yakni menganut paham tradisional; menganggap bahwa proses pertumbuhan ekonomi dan pembangunan di sebagian besar negara terhambat akibat rendahnya tingkat produktivitas yang berhubungan erat dengan tingginya kemubaziran dan ketidakefisiensian sosial. Aliran ini berpendapat bahwa keterbelakangan dan kemiskinan mutlak disebabkan faktor-faktor internal. Istilah Jawa-nya karena salahe dewe.
Adapun aliran yang lain, ialah aliran radikal, memandang kemiskinan dan keterbelakangan suatu negara (terutama negara ketiga) disebabkan oleh kondisi internasional, yakni adanya eksploitasi negara-negara maju terhadap negara-negara berkembang. Namun, dalam hal ini saya beranggapan bahwa teori ini cenderung selalu mencari kambing hitam. Pepatah Melayu-nya, "karena awak tak bisa menari, lantai pula yang disalahkan".

Etos Korea

Kita semua tahu bahwa Korea dalam kurun waktu relatif singkat telah menjelma menjadi masyarakat modern, yaitu masyarakat yang telah mampu melepaskan diri dari ketergantungan pada kehidupan agraris.
Kemajuan Korea ini telah membuat banyak orang berdecak, terpukau seperti melihat keajaiban sebuah mukjizat. Para pakar bertanya-tanya, resep apa gerangan yang telah membuat bangsa yang terubah menjadi negara dan bangsa yang makmur?

Sejak awal tahun 1970-an pihak Pemerintah Korea dalam rangka semangat pembangunan nasional telah berusaha membentuk tipe manusia Korea yang memiliki empat kualitas. Pertama, “sikap rajin bekerja“. Lebih menghargai bekerja secara tuntas betapa pun kecilnya pekerjaan itu, tinimbang pidato yang muluk-muluk tetapi tiada pelaksanaannya.

Kedua, “sikap hemat“, yang tumbuh sebagai buah dari sikap rajin bekerja tadi. Ketiga, “sikap self-help“, yang didefinisikan sebagai berusaha mengenali diri sendiri dengan perspektif yang lebih baik, lebih jujur, dan lebih tepat; berusaha mengembangkan sifat mandiri dan rasa percaya diri. Keempat, “kooperasi atau kerja sama”, cara untuk mencapai tujuan secara efektif dan rasional, dan mempersatukan individu serta masyarakatnya.

Inilah picu laras yang memacu jiwa kerja bangsa Korea. Bila kita perhatikan, keempat butir nilai itu sesungguhnya adalah nilai luhur bangsa Indonesia. “Rajin pangkal pandai…” dan “sedikit bicara banyak kerja” adalah pepatah yang telah mengakar dalam budaya Indonesia.

Adapun nilai self-help, mandiri, sudah lama melekat dalam nilai religi sebagian besar masyarakat Indonesia, karena Tuhan Yang Maha Esa dalam Al Quran menyebutkan bahwa sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib sesuatu bangsa, kecuali bangsa itu mengubah nasibnya sendiri.

Sedangkan setiap usaha mengubah nasib, baik itu membuahkan hasil ataupun tidak, Islam telah memberinya nilai tambah; digolongkan pada perbuatan ibadah. Sementara sifat yang terakhir, kooperasi, adalah sendi-sendi budaya Indonesia yang amat menonjol. Kooperasi atau gotong royong tetap dipelihara dan dilestarikan.

Burung garuda

Sebagai penutup, saya ingin sedikit mendongeng tentang seekor anak burung garuda yang tertangkap dan dipelihara oleh seorang pemburu. Dari hari ke hari dia hanya bermain di halaman rumah; bersama-sama ayam kampung. Lalu pada suatu hari lewatlah seorang ahli unggas. Sang zoologist itu terkejut.

”Ah!” pikir sang ahli unggas itu terheran-heran. ”Sungguh mengherankan burung garuda itu!” ujarnya kepada pemburu.
”Dia bukan burung garuda lagi. Nenek moyangnya mungkin garuda, tetapi dia kini tidak lebih dari ayam-ayam sayur!” balas sang pemburu mantap.
”Tidak! Menurutku dia burung garuda, dan memang burung garuda!” bantah si ahli unggas itu.
Burung garuda ditangkap, lalu diapungkan ke atas udara. Garuda mengepak, lalu terjatuh.
”Betul, kan?” ujar si pemburu. ”Dia bukan garuda lagi!”
Kembali si ahli unggas itu menangkap garuda, dan mengapungkannya lagi. Kembali garuda mengepak, lalu turun kembali. Si pemburu kembali mencemooh dan semakin yakin garuda telah berubah menjadi ayam.
Dengan penuh penasaran si ahli unggas memegang burung itu, lalu dengan lembut membelai punggungnya, seraya dengan tegas membisikkan: ”Garuda, dalam tubuhmu mengalir darah garuda yang perkasa. Kepakkanlah sayapmu, terbanglah membubung tinggi, lihatlah alam raya yang luas yang amat indah. Terbanglah! Membubunglah!” Burung dilepas, dia mengepak. Semula tampak kaku, kemudian tambah mantap, akhirnya garuda melesat membubung tinggi, karena dia memang garuda.
Nah, barangkali cerita ini ada persamaannya dengan bangsa Indonesia. Bukti kejayaan masa lampau telah membuat mata dunia takjub. Borobudur satu bukti karya perkasa. Kini camkanlah bahwa Anda sekalian mampu, Anda punya kemampuan. Korea saja bisa, apalagi Indonesia.
Koh Young HunProfesor di Program Studi Melayu-Indonesia, Hankuk University of Foreign Studies, Seoul, Korea

BUDAYA UNGGUL dan INVESTASI SDM




Saat menerima penghargaan dari Universitas Mercu Buana hari Sabtu pekan lalu, wartawan senior Rosihan Anwar menekankan pentingnya pendidikan. Investasi pada bidang sumber daya manusia memang tidak segera bisa dinikmati hasilnya. Namun pada jangka panjang, niscaya manfaatnya akan segera terasakan.

Rosihan menunjuk India sebagai contoh. ”Lima puluh tahun lalu ketika India memutuskan untuk fokus pada human investment, banyak negara yang mencemooh. Untuk apa melahirkan banyak doktor, sarjana di bidang keuangan dan bidang sains, kalau negaranya tetap miskin,” kata Rosihan.

Cemoohan itu, menurut Rosihan, wajar muncul karena kaum intelektual India itu tidak mendapatkan tempat di negerinya. Bangsa India justru berdiaspora, bertebaran di banyak negara, bekerja di negeri orang.

”Ketika jumlahya masih terbatas dan lapangan kerja di dalam negerinya masih terbatas, orang India yang pintar-pintar terpaksa pergi ke Amerika, ke Inggris, ke Australia untuk bekerja. Tetapi ketika critical mass-nya tercipta, India bisa membangun negaranya sendiri,” kata wartawan senior itu.

Rosihan tidak ragu dengan pandangan banyak orang bahwa India dalam waktu tidak terlalu lama akan menjadi kekuatan ekonomi besar dunia. Mengapa? Karena India mempunyai sumber daya manusia yang memadai untuk mendorong negaranya menjadi negara maju.

”Orang mengatakan India seperti halnya China akan menjadi kekuatan ekonomi utama dunia, saya tidak ragu karena bangsa India melakukan kebijakan yang tepat, yakni melakukan human investment,” kata Rosihan.

Kata kunci yang harus dihadapi seluruh bangsa dunia di depan adalah persaingan. Globalisasi yang sedang kita hadapi membuat persaingan itu bahkan akan semakin ketat.

Untuk bisa memenangi persaingan tidak ada pilihan lain kecuali setiap negara memiliki SDM yang berkualitas. Semakin banyak SDM berkualitas yang dimiliki sebuah negara akan semakin besar peluang yang dimiliki negara tersebut untuk bisa memenangi persaingan atau kompetisi dan memetik manfaat maksimal dari yang namanya globalisasi.

Tentu untuk membuat keunggulan itu bermanfaat serta menghasilkan sesuatu bagi bangsa dan negara dibutuhkan lingkungan yang mendukung. Harus disediakan ruangan yang bisa memungkinkan semua potensi itu berkembang dengan optimal.

Di sinilah diperlukan yang namanya levelled playing field, ruang bermain yang berlaku sama bagi setiap warga negara. Mereka yang meraih kemajuan adalah mereka yang memang lebih kreatif, mereka yang lebih produktif, mereka yang bisa menghasilkan karya yang lebih baik. Bukan mereka yang kebetulan mendapatkan kemudahan, memiliki kekuasaan, mendapatkan privilege.

Dengan lingkungan yang lebih kondusif, maka setiap orang dipacu untuk memiliki etos kerja yang tinggi. Tidak mudah mengeluh dan menyerah kepada keadaan. Selalu berupaya untuk lebih unggul dan memenangi persaingan.

Sikap untuk tidak mudah kalah harus diciptakan dari lingkungan yang sehat. Semua orang dipacu untuk bisa menjadi yang terbaik. Tidak bisa sikap ”kalau bangsa lain bisa, kita juga harus bisa” terjadi dengan sendiri. Itu harus dengan sengaja dibentuk dan ditanamkan kepada diri setiap warga negara.

LINGKUNGAN

Pertanyaannya, apakah bangsa Indonesia tidak memiliki SDM yang unggul?

Bangsa ini dilahirkan sebagai bangsa yang cerdas dan unggul. Dalam setiap bidang, selalu lahir orang-orang yang berkualitas, entah itu dari olahraga maupun bidang-bidang yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan.

Ukurannya sederhana saja. Orang Indonesia selalu menonjol ketika dia berkiprah di negeri orang. Sebut, misalnya, pemain sepak bola Kurniawan Dwi Julianto ketika berkiprah di Liga Swiss atau Bambang Pamungkas yang sekarang ini menjadi bintang di Liga Malaysia. Atau di cabang bulu tangkis, Tony Gunawan yang mampu membawa Amerika Serikat tiba-tiba masuk ke dalam kelompok negara juara dengan mempersembahkan gelar juara dunia ganda putra bagi negeri tersebut.

Singapura sejak lama melihat Indonesia sebagai negara dengan potensi SDM berkualitas. Sejak beberapa tahun terakhir, mereka masuk ke sekolah-sekolah terbaik yang ada di Indonesia untuk menawarkan beasiswa kepada murid yang berpotensi.

Sejak tingkat SMA, anak-anak Indonesia diundang untuk mengecap pendidikan di Negeri Singa itu. Ketika prestasinya semakin menonjol, mereka ditawari beasiswa untuk melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi dengan ikatan dinas. Anak-anak Indonesia itu diminta untuk tiga tahun bekerja di Singapura setelah selesai menjalani pendidikan tingkat tingginya.

Prestasi anak-anak Indonesia diakui di banyak negara lain. Pertanyaannya tentu, mengapa mereka tidak bisa memberi sumbangsih yang nyata bagi kemajuan Tanah Airnya?

Jawabannya terletak pada faktor lingkungan. Potensi yang luar biasa dari putra bangsa tidak mendapatkan tempat untuk bisa berkembang di negerinya.

Sikap untuk mencari jalan pintas begitu umum terjadi di negeri ini. Bahkan orang bangga apabila bisa kaya, meski tidak bekerja.

Padahal, Bapak Bangsa India Mahatma Gandhi mengatakan, salah satu dari tujuh dosa sosial adalah kaya tanpa bekerja. Orang harus merasa malu apabila kaya raya tetapi tidak dari bekerja. Artinya, orang harus bekerja keras, harus berkeringat apabila ingin memetik hasilnya.
Untuk itu Gandhi mengajarkan rakyatnya untuk pintar dan berilmupengetahuan. Namun, ilmu pengetahuan pun bukan sekadar ilmu biasa, tetapi ilmu pengetahuan yang dilengkapi dengan karakter.

Sebab, memang sangat berbahaya orang memiliki ilmu, namun tidak ditujukan untuk kepentingan yang baik. Apalagi tidak dilengkapi dengan etika yang ia pegang teguh. Mereka akan menjadi monster yang merugikan dan membahayakan orang lain.

Kita sangat merasakan sekarang ini ketika orang terbawa arus konsumerisme, tanpa memahami untuk apa semua itu. Kekayaan dan menjadi kaya seolah-olah menjadi tujuan yang harus dicapai, tanpa peduli bagaimana semua itu didapatkan.

Maraknya praktik korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN) di negeri ini terjadi ketika semua orang menjadikan kaya itu sebagai tujuan. Di tengah ketidakpahaman untuk apa orang menjadi kaya itu dan bagaimana meraih kekayaan itu, maka orang mau melakukan apa saja untuk meraih tujuan tersebut.

PERBAIKAN

Apabila kita ingin memperbaiki bangsa dan negara ini dengan membangun budaya unggul (culture of excellences), maka tidak bisa lain kecuali kita memperbaiki lingkungan terlebih dahulu. Harus diciptakan suasana yang menyehatkan, yang memungkinkan semua orang untuk mempertunjukkan keunggulan.

Caranya adalah dengan bersama-sama memberikan penghargaan kepada setiap keunggulan yang ada dan tercipta. Tidak perlu bentuknya dalam materi, tetapi pengakuan atas kehebatan seseorang sudah menjadi pemacu yang luar biasa bagi setiap orang untuk menghasilkan karya yang lebih baik lagi.

Sebaliknya, kita harus berani memberikan hukuman kepada mereka yang melanggar aturan main. Jangan dibiarkan orangorang yang jelas tidak unggul, tetapi mendapatkan kehormatan, kedudukan, apalagi kekayaan yang tidak sepantasnya didapat.

Artis-artis musik, misalnya, merupakan contoh orang-orang yang unggul. Dengan karyanya, mereka mampu mengangkat nama Indonesia untuk menembus pentas dunia. Namun, musisi seperti Dwiki Dharmawan dan Anang pernah mengeluh, betapa karyanya sangat tidak dihargai. Begitu karya mereka hasilkan, begitu pembajakan terjadi.

Upaya untuk mengadukan nasibnya kepada polisi sama sekali tidak membawa hasil. Para pembajak begitu leluasa menikmati hasil pembajakannya dan sering kali mereka membagi keuntungan yang tidak sah itu bersama oknum aparat.

Trio Bimbo (Sam, Acil, dan Jaka) pernah sampai patah semangat untuk berkarya. Sebab, karya yang jelas-jelas milik mereka, tidak dianggap sebagai karya yang harus diakui. Tidak ada satu pun pihak yang mau peduli dan kemudian memperjuangkan hak mereka.

Negeri ini mempunyai potensi besar untuk bisa maju. Negeri ini bukan hanya diberkahi dengan sumber daya alam yang melimpah, tetapi juga dengan SDM yang berkualitas.

Yang dibutuhkan adalah cara penanganan yang benar. Dengan pemberian kesempatan lebih banyak lagi kepada setiap orang untuk bisa mengecap pendidikan agar tercapai critical mass yang mencukupi untuk bisa membawa negeri ini maju, maka niscaya negeri ini akan bergerak maju.

Apalagi jika ditambah dengan penciptaan jiwa kewirausahaan (entrepreneurship), maka orang tidak hanya didorong untuk memproduksi, tetapi bisa juga memasarkan hasil produksinya.

Investasi untuk tercapainya itu semua bukan hanya mahal, tetapi membutuhkan waktu yang panjang. Namun itu harus dilakukan, karena pilihan lain adalah bangsa ini akan menjadi bangsa yang terkebelakang.

Prof Daoed Joesoef pernah mengingatkan, tantangan yang dihadapi setiap bangsa ke depan adalah apa yang disebut dengan global trap. Perangkap global menunjukkan, jumlah orang yang berkualitas makin lama justru semakin lebih sedikit dibandingkan orang yang tak berkualitas.

Untuk mencegah jangan sampai itu terjadi, maka tidak bisa lain kecuali secara sengaja memberikan prioritas kepada investasi SDM.

Banyak negara mampu mengangkat bangsanya karena fokus untuk menangani pendidikan bangsanya. Kalau negara lain bisa, mengapa kita, bangsa Indonesia tidak mampu melakukan?

Belum lama Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menantang anak-anak bangsa untuk mempunyai sikap ”kalau orang lain bisa, mengapa kita tidak?” Sangat relevan kalau kita juga balik menantang pemerintah, ”kalau negara lain bisa memajukan bangsanya, mengapa pemerintah kita tidak bisa?”

Seharusnya tidak ada yang tidak bisa di dunia ini.

Oleh SURYOPRATOMO (KOMPAS 10 desember 2005)

Amerika Bangkrut! Manual Sederhana Krisis Global

Amerika Bangkrut, film dokumenter I.O.U.S.A, 2008

Amerika nyaris bangkrut.
Hutangnya tahun 2009 ini akhirnya akan mencapai US$ 10.7 Trilyun. Ini adalah hutang terbesar diantara seluruh bangsa di dunia.

Kebanyakan hutang ini awalnya dipakai untuk konsumsi rakyat Amerika. Agar masyarakat Amerika bisa mempunyai rumah yang mentereng, mobil yang mengkilat (Lexus, Camry, etc), belanja barang-barang bermerk, dan makan burger tiga lapis. Sedangkan untuk para eksekutif topnya, agar mereka bisa mempunyai yacht super mewah dan private jets.
Kalau tidak punya uang cukup untuk bermewah-mewahan? Gampang, hutang saja. Kalau cuma mampu beli rumah US$ 200.000 tapi ingin punya rumah sempurna seharga US$ 500.000? Mudah, pinjam saja. Bank-bank yang sedang kelebihan modal pasti akan memberikannya. Pemerintah pun mendukungnya dengan senang hati lewat Freddie Mack dan Fannie Mae. Untuk apa? Ya tentu saja untuk politik, untuk membuat rakyat percaya seakan-akan Amerika sedang makmur-makmurnya (lalu mereka akan dipilih lagi).

Lalu siapa yang tidak mau? Dan seluruh Amerika pun berbondong-bondong membeli rumah yang sebenarnya akan sulit mereka bayar. Dan Itulah jiwa orang Amerika sekarang, belanja, dan berhutang. Hutang kartu kredit juga sudah menjadi masalah nasional disana.


Yang kedua adalah untuk dipakai berperang di Iraq dan Afganistan. Menurut Stiglitz, biayanya sudah mencapai US$ 3 Trilyun (The Three Trillion Dollar War, 2008, Joseph Stiglitz dan Linda Bilmes).

Dan apa alasan perang ini? Karena Irak mempunyai senjata pemusnah masal, WMD, Weapon of Mass Destruction, yang kemudian ternyata tidak terbukti sedikitpun. Biaya yang begitu spektakuler untuk sebuah perang palsu. Dan ternyata, kehancuran Amerika tidak akan datang dari Timur Tengah, tidak dari teroris, melainkan dari dalam dirinya sendiri.

Hutang terbesar Amerika adalah kepada China. Besarnya sekitar 740 Milyar Dollar (Foreign owners of US Treasury Securities, January 2009, Wikipedia). Dan produk-produk China juga telah membanjiri seluruh pasar Amerika. Semuanya sekarang ”Made in China”. iPhone? Made in China. Gucci, made in China. Bendera kebangsaan Amerika? The Stars and Stripes? Made, in China.


Orang-orang Amerika sendiri makin kurang suka memproduksi barang di pabrik. Kerja di pabrik tidak cool, tidak keren, dan penghasilannya tidak akan membuat mereka cepat kaya. Lalu Chinalah yang menjadi pabrik raksasa bagi Amerika dan seluruh dunia.

Orang-orang Amerika, lebih suka kerja yang bersih-bersih, jadi pengacara, artis, atau analis keuangan. Para analis keuangan Wall Street juga bermimpi-mimpi, hanya dengan mengutak-atik angka di depan komputer, mereka bisa melipatgandakan uangnya dan menjadi kaya-raya dalam semalam.

Impian-impian menjadi kaya-raya dengan cepat, uang jutaan dollar, dengan mudah membuat banyak orang gelap mata. Beragam sistem, legal dan ilegal, diciptakan untuk membuat keuntungan melonjak drastis. Keinginan untuk berusaha dan mendapat uang adalah wajar, tapi Keserakahan, adalah hal lain. Sementara, produktifitas ekonominya terus turun relatif dibanding China.

Ekonomi finansial Wall Street
segera berubah menjadi ekonomi siluman, permainan uang virtual raksasa yang makin absurd. Judi besar-besaran senilai trilyunan dollar. Banyak orang lalu percaya permainan ini telah berubah menjadi sesuatu yang berbahaya dan mengerikan, a Financial Frankenstein.

Pada titik kritis, Warren Buffet menyebutnya ”Financial Weapons of Mass Destruction”. Diantaranya termasuk permainan penjaminan pinjaman perumahan kelas dua itu, Subprime Mortgage. Dan sebelumnya ada skandal Enron, lalu, skandal raksasa Bernard Madoff yang menipu kliennya sampai Rp 500 Trilyun (!).

Sementara ekonomi Amerika menjadi semakin rusak, China makin kaya. Defisit perdagangan Amerika dan China makin menggelembung (melampaui 100 Milyar Dollar per tahun), dan hutangnya telah menjadi begitu besar. Seandainya China kebetulan ingin menarik kembali hutangnya, maka Amerika, sang Superpower, akan kolaps begitu saja. Bangsa besar Amerika, kedigdayaan Washington, gemerlap New York dan LA, semua akan sirna.

Dan akhirnya tentu meletuslah segala kegilaan itu. Ekonomi Amerika kolaps. Rumah tangga kolaps, mereka yang memaksa membeli rumah lebih mahal dari kemampuannya, tidak mampu membayar cicilan rumahnya, Subprime Crisis. Perusahaan-perusahaan besar kolaps, dan mereka harus di-bail-out besar-besaran dalam skala puluhan Milyaran Dollar (AIG, Citibank, Detroit, etc). David Kellermann, CFO Freddie Mac, pada 22 April 2009 ditemukan bunuh diri di rumahnya.

Dan tidak hanya Amerika, tapi seluruh dunia harus membayarnya. Untunglah akhirnya ada Obama, yang pernah sekolah di Indonesia itu. Tapi tantangan yang akan dihadapi presiden baru itu akan sangat besar, walaupun ia juga mampu memberikan harapan yang besar pada Amerika dan dunia.

Saran hari ini, segeralah belajar bahasa China.
Beli buku percakapan sehari-hari bahasa China di Gramedia. Kedua, kalau anda punya uang berlebih, tabunglah, jangan suka beli barang-barang yang tidak anda perlu sekalipun di-diskon up to 70%. Seperti kata para orangtua kita dulu, berhemat itu bagus. Dan jangan pernah jadi orang yang serakah. Ketiga, banyaklah bersyukur, cobalah bersyukur walau kadang tidak mudah, dan perbanyaklah bantu mereka yang membutuhkan.

Krisis sudah kelihatan akan mulai berakhir, tapi perjalanan sementara ini akan berat, dan semua orang harus berjuang. Mudah-mudahan kita bisa mendapat pelajaran yang sangat besar dari sini.







Pelajari lebih lanjut :

Sparta ! (dan Keunggulan Yunani)



Di Sparta,
bagian terkuat dari Kerajaan Yunani, anak-anak mulai diajarkan keahlian militer, taktik, persenjataan, dan keberanian, sejak umur 7 tahun.
Sparta, adalah satu-satunya kota di Yunani yang tidak mempunyai tembok pertahanan. Para laki-laki Sparta adalah tembok pertahanan yang terhebat.
Setiap anak laki-laki akan menjalani pelatihan kekuatan, stamina, dan mental yang sangat berat dan berdisiplin tinggi seumur hidup mereka. Mereka juga diajarkan cerita-cerita kepahlawanan yang heroik. Tujuannya : membentuk tentara yang sempurna dan tidak terkalahkan.

Pasukan Sparta adalah pasukan terkuat di dunia. Setiap prajurit Sparta bisa mengalahkan beberapa prajurit terbaik dari kerajaan lain sekaligus.
Para raja-raja Sparta yakin mereka semua adalah keturunan langsung dari Hercules.
Dalam pertempuran Thermopylae yang legendaris (480 BC), 7000 pasukan Yunani termasuk 300 tentara terbaik Sparta harus menghadapi 2 juta lebih tentara Persia dipimpin Xerxes I. Sparta dipimpin oleh Raja Leonidas I. Pasukan Sparta bertempur dengan gagah berani dan tidak mundur sejengkalpun walaupun tahu mereka tidak akan menang. Walaupun akhirnya kalah dan mereka semua dibantai, pasukan Sparta berhasil menghabisi 20.000 tentara Persia.
Kenapa Yunani Menjadi Puncak Dunia dan Menghasilkan Banyak Genius ?
Puncak kehebatan Yunani adalah di masa sang pemimpin besar yang karismatis, Pericles (445-429 SM).
Pericles mencintai ilmu pengetahuan dan filosofi. Di masa Pericles, ilmu, seni, kebudayaan, dan filosofi Yunani jadi berkembang pesat. Socrates, bapak para filsuf besar termasuk Plato dan Aristoteles, adalah sahabat Pericles.
Pericles ingin menciptakan kerajaan Yunani yang kuat, kaya-raya, megah dan indah. Acropolis dan Parthenon yang sangat megah dan indah mulai dibangun di masa ini.
Ia mempunyai istri yang cantik dan cerdas, Aspasia. Aspasia bahkan dikatakan menjadi mentor oratorial dari Pericles dan Socrates! Pericles dan Aspasia senang berkumpul dan mengobrol (berdiskusi) dengan para intelektual sepanjang malam.
Socrates adalah anak pemahat batu yang miskin dan pernah menjadi tentara. Ia berperang dengan gagah berani di Perang Peloponesia. Baru di umur 40 tahun ia mulai bertanya, "apa itu hidup?", "buat apa manusia hidup?", dan "apa itu kebijaksanaan?".
Pemikiran rasional bermula dari masa ini, ilmu dari observasi, analisa, dan teori.
Anak-anak semua bersekolah dan diajarkan menulis, membaca, matematika, menyanyi, memainkan alat musik, dan olahraga. Olahraga diajarkan tidak hanya untuk kesehatan, tapi untuk mampu secara efektif mempertahankan kerajaan dari musuh.
Pericles adalah orator terhebat yang karismatis. Pidatonya "bak guntur dan halilintar yang datang dari Dewa Zeus". Waktu lawan politiknya, Thucydides, ditanya oleh raja Sparta Archidamus, "Siapa yang lebih hebat, diriku atau Pericles?!", Thucydides langsung menjawab, "Pericles!". Karena walaupun Pericles kalah, ia akan mampu meyakinkan semua orang bahwa ia menang!
Hasil dari kemenangan atas Persia saat itu, para penduduk miskin Athena terdorong untuk meminta agar suara mereka lebih didengar para penguasa. Pericles memberikannya. Demokrasi dimulai.
Pemimpin terbesar dan paling dikenal Yunani selanjutnya adalah Alexander the Great (lahir 356 SM, memerintah 336-323). Sejak umur 13 tahun ia dididik oleh sang filsuf besar Aristoteles. Aristoteles mengajarkannya filosofi, ilmu pengetahuan, seni, hukum, dan agama.
Alexander, kemanapun pergi selalu membawa sebuah buku, Iliad, cerita kepahlawanan dari Homer. Iliad bercerita tentang kepahlawanan Achilles dalam Perang Troya.
Alexander baru berumur 20 tahun ketika jadi raja Macedonia Yunani. Banyak yang langsung meragukan kemampuannya. Tapi Alexander berubah menjadi pemimpin yang unggul dan pemberani dan bahkan dia mulai menyerang Persia ! (ingat pertempuran Thermopylae).
Alexander adalah jenderal terbesar yang selalu memimpin pasukannya di paling depan. Dia sangat pemberani dan tidak kenal takut sedikitpun.

Alexander adalah seorang pemimpin yang cerdas dan terpelajar. Ia mewariskan Universitas dan perpustakaan di Alexandria, Mesir. Perpustakaan Alexandria adalah perpustakaan terbesar di dunia di zaman klasik.